Rabu, 07 Mei 2014

Minder atau Tidak Percaya Diri (Al-Khouf)

 
Kali ini kita melanjutkan pembahasan dari 3 hal penyebab kebodohan, salah satunya yaitu Minder. Minder atau bahasa arabnya Al-Khouf mempunyai arti tidak percaya diri, memiliki rasa takut sebelum bertanding atau sebelum berbuat, menganggap dirinya sangat kecil dimata orang lain atau juga bisa diartikan melihat kebesaran dan kelebihan orang lain sehingga ketika akan melangkah amat sangat berat dan terlalu banyak pertimbangan yang tidak rasional dan tidak ilmiah.
 
Penyakit yang perlu konsentrasi khusus dan kepedulian yang tinggi untuk mengobatinya karena sulit bergaul dengan orang, suka mengisolir diri, sulit beradaptasi dan bergaul secara luas dengan ingkungan atau masyarakat, suka menyalahkan orang , bangga dan senang mencari kambing hitam dalam masyarakat, bicaranya banyak tetapi tidak pernah sinergi dengan perbuatannya.

Kita harus menghindari minder ini karena dengan minder kehidupan tidak akan berkembang, orang yang sudah terjangkit penyakit minder akan terbawa pada penyakit malas, dan tidak punya gairah untuk melakukan aktivitas atau pekerjaan.

Minder ini bisa diatasi dengan cara seringnya bergaul dan bermasyarakat sehingga tidak merasa adanya perbedaan, serta mampu beradaptasi sehingga bisa membawa diri dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat.

Selain 3 hal yang kita bahas di halaman sebelumnya yang mencakup penyakit Malu, Malas dan Minder. Disini juga kita akan bahas penyakit hati, penyakit hati ada dua yang selalu melemahkan Iman dan membuat manusia tidak produktif dan tidak kreatif dalam aktifitas hidup. Penyakit hati ini yaitu Takut dan Suka Bersedih Berkepanjangan.

Malas atau Kurang Semangat (Alkasal)


Dalam bahasa arab (Alkasal, Kasal) yaitu kurang bersemangat dalam menyelesaikan setiap masalah pertolongan orang. Tidak berbuat banyak untuk kepentingan dirinya apalagi untuk kepentingan orang banyak, (Ibadah Sosial) yang di hadapi baik kecil maupun besar, suka mengulur waktu, ini adalah perbuatan yang sangat melemahkan kepercayaan orang lain. biasanya kurang produktif dan kreatif terhadap fenomena yang terjadi, tidak punya jiwa saing yang kuat atau kurang kompetetif dalam segala hal yang berakibat kehidupannya penuh dengan kemiskinan, baik itu miskin ilmu, miskin pengalaman dan terutama miskin harta. Yang paling bahaya adalah bila di sertai dengan kemiskinan iman.
Pemalas ini biasanya hasil dari pendidikan rumah oleh orang tua, pembantu dan lingkungan dimana si pemalas tinggal atau berdomisili, waktu pendidikan dan pembelajaran hidup dirumah dan masyarakat yang paling lama dan cukup berpengaruh terhadap karakter seseorang. Bahkan didalam penjelasan Al-Quran pemalas itu adalah ciri munafik, bisa diperhatikan jika mendirikan sholat lima waktu sebagai konsekuensi (hubungan vertikal) dengan Allah selalu bermalas malasan baik fisiknya dan penampilannya, begitu pula hubungan dengan sesama manusia (hubungan horisontal).
  Ada 3 (tiga) ciri orang munafik itu :
1. Malas dalam mendirikan sholat lima waktu ini adalah mewakili semua Aktifitas ibadah.
2. Aktifitas dan Ibadahnya ingin dipuji atau dilihat orang lain (Riya' / Show off / pamer diri)
3. Sedikit sekali berdzikir atau mengingat Allah SWT.
   Dalam situasi dan kondisi apapun dan bagaimanapun banyak lupa kepada yang Maha segala-galanya. Kesalahan yang sangat fatal, kita ingat, mengadakan hubungan baik dengan lingkungan dimana kita berada sementara lupa bahkan tidak pernah konek dengan yang menjaga, memelihara, melindungi, membela dan menyayangi dalam 24jam (Siang dan Malam) di dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 142.

Begitu pula Advice Rasulullah SAW tentang karakter munafik :

1. Apabila berbicara Dusta (Tidak Jujur)
  • Dusta dengan hatinya atau qolbunya
  • Dusta dengan lisannya atau Ucapannya
  • Dusta dengan Perbuatan atau tingkah lakunya
2. Bila berjanji tidak pernah tepat (tidak dapat dipercaya)
3. Apabila dipercaya, suka dan sering berkhianat.
    Inilah penjelasan tentang hubungan horisontal. Dari sifat malas tumbuh, malu dan Minder. Ketiga sifat ini merusak fitrah Manusia. Sebabnya sudah keluar dari jiwa suci (fitrah) yaitu jiwa yang kasih sayang, toleransi, rendah hati dan tidak pernah putus asa. Sifat-sifat inilah yang akan mewarnai satu kehidupan damai, tenang, berkeadilan dan berkemakmuran, aman dan barokah, sukses dunia akherat.

Ada 3 ciri bagi pemalas yang sudah menjadi dominan, tetapi masih dapat diperbaiki dan dididik.

1. Banyak Makan, Hidupnya hanya untuk makan yang utama atau dalam bahasa agama adalah Tamak. Akibat banyak makan bisa menyebabkan malas. Baik malas bergerak, malas berinisiatif dan malas berkompetensi sehingga yang menjadi cita-citanya kandas dan tidak berhasil.

2. Suka Tidur, kurang bangun malam untuk taqorrub kepada Allah, Banyak makan akibatnya suka tidur dan pada akhirnya suka meremehkan semua hal yang menjadi tanggung jawabnya, tentu pada titik optimalnya adalah tidak akan pernah dipercayai orang.

3.Banyak Istirahat atau Santai, bekerja dan berbuat, lebih banyak istirahatnya, biasanya hanya banyak mengkhayal dan mengandai-andai.

Rabu, 15 Januari 2014

SULITNYA IKHLAS

MEMBERSIHKAN dan memurnikan perbuatan dari segala macam kesenangan duniawi bukanlah persoalan ringan seperti diduga banyak orang. Perbuatan semacam itu memerlukan perjuangan sungguh - sungguh dengan mengalahkan sifat egois dan membabat habis segala kesenangan pribad yang bersifat sementara. Selain itu , juga diperlukan pengawasan yang sangat ketat terhadap setiap lubang yang bisa dimasuki oleh setan. Setelah itu, seseorang harus berusaha keras menyucikan jiwa dari faktor - faktor yang mendatangkan riya, sifat gila jabatan dan suka popularitas. Karena demikian sulitnya melakukan perbuatan dengan niat ikhlas, maka wajar jika ada orang ulama ketika ia ditanya tentang amalan yang paling berat dilaksanakan, menjawab bahwa amal perbuatan yang sangat sulit tersebut adalah ikhlas. Ulama lain berkata : "membersihkan niat dari segala macam campuran itu lebih berat bagi juru dakwah daripada menyucikan amal perbuatan yang lain.".
Ulama lain berkata, "Suatu pekerjaan yang sulit dan berat dilakukan di dunia ini adalah ikhlas, sudah beberapa kali saya berusaha untuk mematahkan yang namanya riya dari dalam kalbu, namun ternyata ia tumbuh lagi dalam bentuk lain. "Bahkan ada juga ulama yang tujuannya semata-mata mencari keridhaan Allah SWT."
Kadang - kadang Anda melihat seorang pejuang yang mengira ia berjuang membela Islam dengan semangat menyala-nyala dan niat yang lurus. Namun, jika Anda mengamati hakikat niatnya di dalam hati, maka Anda mendapatkan bahwa jihadnya itu bukan untuk membela agama Islam , melainkan semata-mata untuk mencari keuntungan duniawi dengan mengenakan baju agama. Tegasnya, sebenarnya ia berjihad karena mengharapkan kemewahan di alam yang fana ini. Padahal, Allah tidak akan menerima amalan yang timbul dari hati yang tidak tulus. Demikian pula, Allah tidak akan menerima amal perbuatan yang buka karena mencari ridha-Nya. Amal perbuatan yang akan diterima-Nya adalah amal yang dilandasi keikhlasan.

Kamis, 09 Januari 2014

PENGERTIAN IKHLAS

IKHLAS ialah menyengajakan perbuatan semata - mata mencari keridhaan Allah dan memurnikan perbuatan dari segala bentuk kesenangan duniawi. Dengan demikian perbuatan seseorang benar - benar tidak dicampuri oleh keinginan yang bersifat sementara, seperti keinginan terhadap kemewahan, kedudukan, harta, popularitas, simpati orang lain, pemuasan hawa nafsu, dan penyakit lainnya.

Berdasarkan pengertian ini, ikhlas adalah dampak positif dari tauhid yang sejati yaitu tindakan mengesakan Allah SWT dalam peribadatan dan memohon pertolongan. Hal ini sesuai dengan firman Allah di dalam surat Al-Fatihah, " Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan." Oleh karena itu riya sebagai lawan ikhlas dianggap sebagai perbuatan syirik sebagaimana di katakan Syaddad bin Aus r.a. "Pada masa Rasulullh saw. kami memandang bahwa riya merupakan syirik kecil."